psikologi rasa memiliki

mengapa kita merasa satu keluarga dengan orang asing di konser

psikologi rasa memiliki
I

Bayangkan kita sedang berada di tengah lautan manusia. Udara terasa panas, bau keringat bercampur dengan parfum murah, dan telinga kita mulai berdenging. Tiba-tiba intro lagu favorit kita dimainkan dari atas panggung. Tanpa aba-aba, kita melompat. Kita menyanyi sekencang-kencangnya sampai pita suara rasanya mau putus. Lalu, kita menoleh ke sebelah. Ada orang asing, sama-sama berkeringat, bernyanyi dengan urat leher yang menonjol. Kita bertatapan, tersenyum lebar, lalu berpelukan seolah sudah kenal puluhan tahun. Pernahkah teman-teman mengalami momen magis seperti ini? Mengapa tiba-tiba kita bisa merasa menjadi satu keluarga dengan ribuan orang yang namanya saja kita tidak tahu? Mari kita bedah fenomena aneh tapi sangat indah ini bersama-sama.

II

Sejarah manusia sebenarnya adalah sejarah tentang bergerombol. Ratusan ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita di padang sabana Afrika hidup dengan satu aturan baku: sendirian berarti mati. Kalau kita tidak tergabung dalam sebuah suku atau tribe, kemungkinan besar kita akan jadi makan malam harimau bergigi pedang. Otak kita pun berevolusi untuk selalu mencari rasa aman di dalam kelompok. Psikolog menyebut dorongan ini sebagai need to belong atau kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki. Pada awal abad ke-20, seorang sosiolog bernama Émile Durkheim mengamati hal ini dan menciptakan istilah collective effervescence atau gelembung kolektif. Ini adalah momen-momen langka ketika energi dari sebuah kelompok menyatu, lalu mengubah total cara individu di dalamnya berpikir serta bertindak. Kita merasa jauh lebih besar dari sekadar tubuh kita sendiri. Tapi, bagaimana tepatnya transisi dari ego "saya" menjadi "kita" ini terjadi secara biologis?

III

Tentu saja, keajaiban ini bukan sekadar urusan "vibes" yang asyik. Ada pabrik kimia di dalam tengkorak kita yang sedang bekerja lembur saat kita berada di kerumunan yang satu frekuensi. Saat kita mulai merasa diterima oleh lingkungan sekitar, otak kita akan menyemprotkan oxytocin, hormon cinta yang membangun ikatan sosial. Ditambah lagi dengan endorphins yang memblokir rasa sakit. Makanya, kaki yang pegal karena berdiri tiga jam di festival musik tiba-tiba sama sekali tidak terasa. Tapi tunggu dulu, ada satu kejanggalan di sini. Kalau ini hanya sekadar soal berkumpul bersama banyak orang, berdesakan di KRL pada jam sibuk juga melibatkan ribuan manusia. Kenapa di gerbong kereta kita malah merasa kesal dengan orang asing, sedangkan di stadion konser kita justru merasa seperti saudara kandung? Apa bumbu rahasia yang membedakan kedua jenis kerumunan ini?

IV

Jawabannya ternyata ada pada sinkronisasi. Sains menyebut fenomena ini sebagai interpersonal synchrony. Saat kita bertepuk tangan, melompat, atau bernyanyi dengan ritme yang persis sama, kita sebenarnya sedang melakukan peretasan biologis tingkat tinggi. Ritme musik memaksa gelombang otak ribuan orang untuk bergerak dalam frekuensi yang seragam. Ilmuwan menyebut kondisi ini sebagai brain-to-brain coupling. Otak kita benar-benar "terhubung" secara nirkabel dengan orang asing di sebelah kita. Pada detik yang sama, bagian depan otak kita yang biasanya cerewet memikirkan gengsi, identitas diri, dan kecemasan sosial (korteks prefrontal) mendadak meredup. Kondisi ini dinamakan transient hypofrontality. Garis batas imajiner antara "diri kita" dan "orang lain" hancur lebur. Secara neurologis, saat kita bernyanyi bersama, orang asing itu tidak lagi diproses oleh otak sebagai sebuah ancaman, melainkan sebagai perpanjangan dari diri kita sendiri. Kita literal berubah menjadi satu organisme raksasa yang sedang bernapas dan bernyanyi bersama.

V

Menyadari fakta ilmiah ini selalu berhasil membuat saya merenung. Kita sekarang hidup di era modern yang penuh dengan sekat-sekat pemisah. Kita sering sibuk membela ego di media sosial, merasa kelompok kita paling benar, dan anehnya, kita sering kali merasa sangat kesepian justru di tengah keramaian kota. Namun, fakta bahwa otak manusia masih memiliki tombol rahasia untuk langsung menyayangi orang asing hanya lewat nyanyian bersama, adalah sebuah pengingat yang sangat mengharukan. Secara kodrati, kita dirancang untuk saling peduli dan terhubung. Jadi, kapan pun teman-teman merasa dunia ini terlalu dingin atau terpecah belah, mungkin yang kita butuhkan bukanlah perdebatan yang panjang. Mungkin, kita hanya butuh berdiri berdesakan di sebuah lapangan, mendengarkan satu lagu yang sama, dan kembali menjadi manusia purba yang saling merangkul sambil bernyanyi mengelilingi api unggun.